Pemalas


“Percaya tidak, aku seperti hidup dalam dua tubuh. Yang pertama ialah aku yang rajin dan yang kedua ialah aku yang malas” Aku berkata seperti itu padanya, lantas itu membuat dia tertawa hebat. “HAHAHA, lu gimana sih gua juga kayak gitu kali. Normal semua manusia tuh kayak gitu. Ada sisi malas dan ada juga sisi rajin. Itu mah tergantung kitanya aja yang mau berjuang untuk mempertahankan yang mana.” Mendengar kata ‘berjuang’ membuat diriku menjadi terpana dengan ucapannya.

Sore kali ini berbeda dengan biasanya. Ada rasa yang begitu hangat mengenai kulit ini. Suara bising kendaraan tak henti-hentinya menyaut seakan tak sabar melihat keluarga dirumah setelah seharian penuh bekerja. Pinggir jalan juga ramai dengan pejalan kaki yang terlihat santai, mungkin mereka adalah para penganut kata ‘jalan-jalan sore’ mencari makanan ringan yang enak untuk disantap dirumah sebelum malam hari tiba. Sore adalah batas waktu untuk berhenti dari semua kegiatan dan pekerjaan, melepas semua penat dan letih untuk mulai berisitirahat. Sore itu pulang. Memang siapa yang tidak suka pulang? Aku rasa semuanya hampir suka pulang. “Woi, udahan nonton Animenya, udah adzan masih aja nonton, mandi sana” seketika teman di sebelah kamar kosan menegur hingga aku merasa kaget sekaligus tidak senang. Siapa coba yang senang diganggu ketika sedang asik menonton anime favorit? Mana aku sudah susah payah berimajinasi saat melihat cuplikan disaat sore hari. Heuh, menyebalkan. Teman ku itu rajin, dia selalu mengerjakan aktifitas jauh-jauh hari sebelum mendekati deadline tiba. Berbeda jauh dengan diriku sendiri si pemalas. Aku memang mengakui bahwa diri aku itu pemalas. Rasanya Aku lebih senang melakukan hal yang aku suka dibandingkan hal yang memerlukan tenaga keras dan otak, aku kurang suka itu. Sebenarnya, aku melihat bahwa didunia ini tidak ada yang namanya malas, ia hanya tidak senang melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan, seperti halnya kewajiban, tuntutan atau yang lainnya. Tapi memang sih, kalau dipikir-pikir pada akhirnya malas situ memang tidak enak. Selalu merasa paling tertinggal dengan yang lainnya, apalagi aku yang senang mengerjakan tugas saat deadline. Aku selalu membandingkan diriku dengan teman sebelah ku ini. Sangat jauh berbeda. Tapi ada satu hal yang harus kalian tahu, kalau terkadang aku seperti memiliki dua tubuh yang berbeda. Seperti yang dikatakan sebelumnya, tubuh yang satu lagi ialah rajin. Tubuh yang rajin selalu mengingatkankan ku untuk terus bergerak, melakukan hal apapun yang menambah kemampuan diriku, atau apapun itu selama jauh dari Handphone dan Kasur. Oh iya tipe pemalas ku ialah suka dengan Kasur. Aku sering berbaring di Kasur bermain handphone sampai lupa waktu. Bahkan juga sering menghabiskan satu hari hanya untuk tidur. Lalu tubuh rajin ku selalu mendorong diri aku sendiri kalau sebenarnya aku itu mampu mengalahkan si malas. Sempat aku berpikir dalam diri, kerap sering kali aku bersaing dengan orang lain tapi tidak dengan diri sendiri. “Dan, hari ini lo yang ngepel yah, gua mau kekosan temen dulu. Awas lho kalau gak di pel” sambil menatapku dengan penuh ingin. Padahal yang sering mengepel itu dia, bukan Aku. Duh, Malu rasanya. Kemudian Aku memaksa diri untuk pergi berjalan ke kamar mandi. Sudah pukul 18.15 aku baru mandi sore, heuh mandi sore macam apa ini? Setelah itu dilanjutkan mengepel, biasanya untuk ngepel dan beberes kosan itu siang hari. Tapi teman ku baru pulang saat sore hari, dan berharap ketika pulang kosannya rapih dan bersih. Tapi ternyata tidak.
Si rajin akan datang ketika diri sudah penat dipeluk oleh si malas. Siklus tubuh memang selalu berubah tiap waktu, baik dari segi suasana hati ataupun dorongan nafsu. Saat si rajin datang, ia rela membuat badan ini letih juga otak ini diharuskannya untuk berpikir keras. Alasannya ingin beres dan tenang kedepannya. Contohnya saja saat hari minggu kemarin, biasanya saja aku tidur seharian namun kemarin itu berbeda. Aku bangun sebelum shubuh tiba dan berusaha memaksa mengerjakan aktifitas yang produktif seharian penuh, dan rasannya bangga sekali! Saat itu aku merasa menang dengan diri sendiri.

Malam pukul 20.00 wib teman aku pulang dan berteriak kaget “WAAA, Rapih banget Dan! Ini yang gue suka dari lo” Malam itu si rajin sedang bangun. Si rajin selalu hidup dan selalu berusaha untuk tidak tidur dengan caranya sendiri. Malam itu Si Rajin bilang ke si malas, ‘aku juga ingin bermain peran, peran utama layaknya kamu sekarang, dikala aku menjadi peran utama, kamu pun boleh singgah sesaat disaat aku sedang ingin beristirahat.'


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumpa pembuat 6 stiker #kindcomments di Instagram

Apa aku pandai bersandiwara di dunia ini?