siklus



Sepertinya kita sudah mulai mencari-cari kata ‘dewasa’. Kita sudah tidak terlalu peduli pada hal-hal yang bersifat konyol apalagi membuang-buang waktu. Padahal sejatinya kita itu konyol dan memang tugas kita itu membuang-buang waktu sampai mati. Kita sudah disibukkan oleh kegiatan yang kita anggap prioritas. Lagipula kita juga sudah beda dunia. Sibuk mencari cita-cita agar nafsunya puas terpenuhi. Kita sibuk mendekatkan diri pada hal yang kita anggap nyaman. Adapula yang sibuk keluar mencari diri karena tidak suka kata ‘nyaman’. Jadi, kamu itu yang mana? Kita tidur dan terbangun pada jam yang berbeda juga mandi, makan,  ngobrol, melamun itu semua kita lakukan pada jam yang berbeda. Hingga tak terasa hari sudah semakin cepat berlalu sampai lupa bahwa kita sudah semakin asing untuk saling mengenal. Lalu perlahan kita semakin berjalan jauh mencari orang-orang yang sepaham dan mengerti akan satu sama lain, jika tidak ketemu? Paksa sampai bertemu. Atmosfer baru kita semakin membentuk sebuah pola yang sulit dimengerti orang lain dimana hanya diri sendiri saja yang tahu, begitupun dengan yang lama sudah menjadi angin lalu saja. Ingatan lamapun juga sudah mulai tertimbun pada ingatan yang baru. Disaat kita mengingat kembali ingatan yang sudah tertimbun, tanpa sadar aku akan tersenyum secara tiba-tiba begitupun dengan kamu. Memang beginilah naskah kehidupan kita ingat lalu menjadi lupa. Kembali lagi terus berulang seperti itu. Bukan masalah prioritas atupun apa, tapi masalah bagaimana kita untuk bisa bertahan hidup satu sama lain. Sudah cukup mungkin, terima kasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumpa pembuat 6 stiker #kindcomments di Instagram

Apa aku pandai bersandiwara di dunia ini?

Pemalas