Ibu lihat anak lelaki itu pendiam


“Ibu, ibu lihat deh kearah sana ” gadis kecil itu menunjuk ke arah anak lelaki sebaya nya. Ia sendiran duduk termenung memandangi awan

“Iya nak, ada apa dengan anak itu?” Si Ibu bertanya keheranan

“Ibu, anak itu tidak pernah berbicara sedikitpun, waktu lagi istirahat saja, dia hanya duduk diam sambil makan bekalnya. Terus juga, kalau ada temannya yang ngajakin ngobrol dia juga tetap saja diam. Lelaki itu pendiam sekali Ibu, aku jadi penasaran, apa dia itu bisu ya bu? Memangnya dikelas aku ada yang bisu, bu?” Gadis kecil tersebut smakin penasaran dengan lelaki itu.

“SSuuuh! Kamu ga boleh asal ngomong begitu Dek, kita ga boleh menuduh orang jelek-jelek” sang Ibu menyeru kepada si anak. “Mending kamu main sama dia, Ibu mau ke ruangan bu guru dulu sebentar” lalu si Ibu pergi meninggalkan sang anak. 

Kemudian Gadis kecil memberanikan diri untuk mendekati anak lelaki itu. Hanya karena penasarannya yang tinggi, mengapa ia tak pernah berbicara.

“Eh, kamu kok ngeliatin awan terus daritadi” sembari memandangi awan, mencari-cari apa yang menjadi perhatian anak lelaki itu.

Tak berbicara, hanya memandangi wajah si gadis, anak lelaki itu memasang wajah keheranan seolah ia merasa terganggu dengan kedatangan gadis tersebut. Sang gadis mengerutkan alisnya dan bertanya sekali lagi “kamu dengarkan kata-kata aku barusan, kamu ngapain mandangin awan terus?” Namun, jawaban anak lelaki itu hanyalah mengangkat bahu. Sang gadis semakin heran dibuatnya, ia semakin berpikir bahwa ada yang aneh dengan lelaki tersebut. Kemudian Gadis kecil mengeluarkan sebuah kertas dan menulis “kok dari tadi ngeliatin awan terus?” lalu ia tunjukkan kepada anak lelaki itu. Si gadis berpikir mungkin saja anak ini tuli, makanya ia menulis untuk memastikan ada apa dengan anak lelaki tersebut.

Respon si anak lelaki tidak seperti apa yang diharapkan. Ia lari meninggalkan si gadis tersebut secara tiba-tiba. Sontak, si gadis merasa kesal karena telah diacuhkan. Kemudian kekesalannya semakin menjadi-jadi, ia pun menangis. Karena maksud dari si gadis hanyalah ingin berteman dengan teman kelasnya itu. Teman kelasnya yang tak punya teman ketika istirahat tiba. Teman kelasnya yang selalu diam di kelas. Teman kelasnya yang tak peduli ributnya suasana kelas. Ia hanya ingin berteman, Karena si gadis suka berteman dengan siapapun, maka dari itu suatu keharusan ia mengenali semua temannya itu, termasuk anak pendiam itu,

Si gadis menangis dan pergi meninggalkan tempat tersebut. Ia mencari-cari sang Ibu karena emosi yang membuat ia ingin pulang secepatnya. Namun ditengah jalan, Gadis kecil bertabrakan dengan anak lelaki sebayanya, hingga mereka berdua jatuh ketanah. Sang gadis cepat-cepat berdiri dan setelah melihat, ternyata yang ia tabrak adalah anak lelaki pendiam tersebut. Anak lelaki pendiam itu berkata padanya “Maaf” dan itu adalah kata pertama yang ia dengar selama sudah hampir satu bulan menjadi teman sekelas. Si gadis terkejut sembari memasang wajah kesal, “Kamu bisa ngomong?” Si anak lelaki bukannya memerhatikan si gadis, namun ia sibuk mencari-cari benda yang terjatuh tadi. Setelah dapat, benda tersebut ialah Es krim Pino. Dan Anak lelaki itu memberikan eskrimnya untuk si gadis sambil berkata “Jangan nangis lagi, nih untuk kamu” Sang gadis menahan wajah malu dan senang karena mendapatkan eskrim gratis. Kemudia Gadis kecil mengambil eskrim dari tangan si anak lelaki tanpa melihat wajahnya, hingga bergetar lah suara si gadis “Makasih” namun si anak lelaki pergi begitu saja meninggalkan si gadis. Si gadis buru-buru melihat  kemana ia pergi. Dan si anak lelaki tersebut pergi ketempat tadi, sambil melanjutkan melihat awan-awan. Si gadis diam melihatnya, dan mungkin melihat awan adalah salah satu kesukaannya ucapnya dalam hati. Lalu si gadis pergi menghampirinya. Dan duduk disebelahnya sambil tak mengucap sepatah kata apapun. Mereka berdua hanya diam, hanyut menikmati indahnya awan yang bergerak secara perlahan.

“Dek, hayu pulang” Sahut Ibu memanggil. Gadis kecil kemudian menengok ke arah Ibu, dan kembali menengok ke arah wajah si anak lelaki tersebut. Sebagai pertanda ingin pamit. Namun si anak lelaki tetap asyik memandangi awan, menghiraukan gadis kecil yang ingin pulang. Gadis kecil tersebut kemudian pergi mengarah Ibu. dan itulah perpisahan mereka berdua dikala sore, hanya diam.

“Ibu, anak lelaki itu ternyata tidak bisu, Dia memang pendiam dan aku suka padanya bu, ia baik.” Ucap gadis kecil sambil memeluk eskrim pino yang sudah encer daritadi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumpa pembuat 6 stiker #kindcomments di Instagram

Apa aku pandai bersandiwara di dunia ini?

Pemalas