Balon udara Mia

Sore itu langit menampakkan semburat lembayungnya di atas para mahasiswa dan mahasiswi yang enggan pulang ke rumah karena sudah terlanjur asik dengan kegiatan kampus.Tapi tidak untuk mahasiswi yang sedang duduk termenung di kantin fakultas bahasa, berkerudung abu dengan pakaian sangat sederhana menunjukkan bahwa memang anak kosan itu tidak lepas dari kesederhanaan yang ia punya, mungkin itu adalah salah satu cara untuk menghemat pengeluaran biaya deterjen. Gadis itu duduk seorang diri di kantin yang sedari tadi penjual sedang ribut membereskan barang-barangnya karena bergegas untuk pulang ke rumah. Dengan wajah seperti menunggu seseorang, duduk dengan tangan menempel di pipi dan disandarkan lengannya di atas meja, bekicau seorang diri, asik berteman dengan pikiran yang dari tadi sudah menemani kesendiriannya hingga suasana tersebut dipecahkan oleh mang-mang penjual mie ayam "Mia, kamu teh gak pulang?" Tanya mang mie ayam dengan wajah yang penasaran disertai letih sehabis bekerja. "Oh mang, belum. Mia teh lagi nunggu orang" jawab Mia dengan wajah manisnya. "Ohh atuh Mia, jangan nunggu disini. Kantin sudah mau tutup, nanti kamu sorangan didieu, berani emang?" mang mie ayam bertanya dengan penuh perhatian kepada gadis manis ini. Mia hanya membalas dengan senyumannya membuat wajahnya semakin geulis. Kemudian datanglah laki-laki berkacamata dengan kemeja hitamnya mendekati Mia, "Yuk" ucapnya.  Mia memang sedari tadi menunggu laki-laki berkacamata itu, kemudian mereka pamit pergi dengan Mang mie ayam dan menuju keluar kantin. Mereka jalan berdua, tanpa naik kendaraan, dan itu membuat Mia semakin merasa nyaman didekatnya. Karena bagi Mia, ngobrol sambil berjalan kaki itu enak, selain bisa jalan berdampingan, Mia juga bisa melihat dengan jelas bagaimana rupa wajahnya ketika ia sedang berbicara. Obrolan mereka berdua memang sangat membosankan, karena tak jauh dari topik monoton yang sering kali iperbincangkan. Tapi bagi Mia tak menjadi masalah, didekatnya saja Mia sudah merasakan nyaman.

Nama laki-laki itu Dani. Mahasiswa semester 6 fakultas teknik mempunyai wajah yang keras disertai matanya yang bulat sudah hampir satu tahun kenal dengan Mia. Tapi sejauh ini, mereka berdua hanyalah sebatas teman dekat, tidak lebih. Mia sendiri selalu bertanya-tanya, apakah dia merasakan perasaan berdebar ketika tangan mereka saling menyentuh? Mia selalu merasakan hal seperti itu, Mia tahu, bahwa dia punya perasaan yang lebih terhadap Dani. Selain itu, Mia juga ingin sekali bertanya, Dani menganggap Mia itu seperti apa? karena setajauh ini, dani adalah orang yang paling perhatian terhadap Mia. maka tak jarang Mia beranggapan bahwa dani juga mempunyai rasa yang sama terhadapnya."Mia ... tau gak tempat yang enak untuk ngopi? selain di kafe D'park yah, bosen aku kesitu terus." Dani bertanya dengan wajah yang tetap melihat kedepan. "Tau! itu di dekat pasar baru, lumayan enak lah buat nongkrong" jawab mia dengan penuh semangat. "hmm, oke" ucapan dani yang begitu singkat membuat Mia sedikit kecewa, Entah mengapa Mia selalu saja berharap kepada laki-laki ini. berharap setidaknya ia melihat Mia. bahkan seringkali Mia yang lebih dulu mengajak pergi ke suatu tempat. Dani hanya bisa mengiyakan dan mengikuti, padahal Mia ingin sekali dani yang mengajaknya pergi ke suatu tempat terebih dulu. kemudian, suasana menjadi hening. Tak ada lagi topik yang menarik, seperti biasa. Membosankan, tapi Mia menganggap suasana ini menjadi sedikit dingin disaat jawaban dari dani yang tadi ia dengar. Kemudian, Mia tak sanggup untuk mengeluarkan isi hatinya, lalu ia bilang "hayuk kesana besok, mau ga?" Dani menatap wajah Mia "boleh" dani tersenyum dan mia pun kut tersenyum. Suasana kembali mencair. Memang terlihat sedikit menyedihkan bagi Mia, tapi ia tak memperdulikannya, yang penting ia sayang dengan dani. sudah itu saja.

Keesokan harinya, mereka janjian bertemu di kafe pada pukul 2 siang. Mia yang lebih dulu datang, mencari tempat duduk yang enak untuk mereka berdua. kemudian dani datang dan langsung menemukan posisi duduk Mia. Lalu mereka berdua duduk berhadapan. Tidak ada perbincangan yang dinanti=nantikan, yang ada hanyalah perbincangan basa-basi "Mia dari pukul jam berapa tiba disini?" tanya dani. "aku setengah satu lah" jawab mia. kemudia hening tiba menghapiri untuk kesekian kalinya. Mia dan dani memang bisa dibilang cukup pendiam, mereka berdua tidak terlalu pandai untuk mencari obrolan topik yang asik. Tapi bukankah ketika dua insan saling menyukai, obrolan yang terlihat membosankan bisa menjadi euforia yang tak terbayangkan? mungkin itu yang dibayangkan oleh Mia. gadis manis yang tak mengerti apa-apa tentang cinta. yang ia tahu, didekatnya saja sudah merasa cukup. "Dan ..." Mia yang sudah tak tahan dengan perasaannya sendiri, mencoba memberanikan diri untuk memulai obrolan. "iya? " tanya dani. "Dan, kamu pernah ga suka sama seseorang?" pertanyaan mia yang jarang sekali membahas masalah cinta membuat dani sedikit tercengang "hm.. pernah kok." "terus gimana rasanya?" "rasanya indah mia, seperti menaiki balon udara yang tinggi di hamparan awan yang berwarna putih. dibawahnya terdapat pepohonan tinggi yang berwarna hijau lebat ditemani oleh aliran sungai dengan air ang begitu jernih. Udaranya pun sangat segar untuk dirasakan, seperti suasana ternyaman yang pernah aku rasakan Mia. juga tiap harinya aku merasakan semangat dalam tubuhku ini, merasakan seperti ada yang meloncat-loncat gembira didalam hati ini, dan rasanya aku ingin ikut meloncat-loncat, kemudian juga didalam ini-sambil menunjukkan jari ke hatinya- terdapat rasa yang tak akan pernah bisa dijelaskan oleh siapapun itu. senang mia, begitu indah untuk dirasakan." Mia mendengar dengan penuh seksama ikut hanyut terbawa emosi, sudah lama ia memendam rasa yang ingin sekali ia keluarkan. balon udaranya yang dikekang sudah siap terbang ke angkasa dari dulu, ia tak ingin balon tersebut menjadi kehilangan udara dan tak bisa pergi dengan semestinya. Mia juga ingin sekali merasakan hal yang indah seperti itu, lalu ia memberanikan diri untuk langsung menyatakan perasaannya. "Dan, aku suka sama kamu. dari dulu, aku selalu merhatikan kamu. aku senang dekat denganmu, walau aku tahu, kamu adalah orang yang membosankan. tapi tak mengapa, aku ingin jauh lebih dekat sama kamu. aku ingin merasakan hal yang jauh lebih bosan bersama kamu. dan aku ingin menaiki balon udara yang sudah aku buat bersama kamu. bersama kamu dani."

"Mia? jadinya mau mesan apa nih, kamu kok bengong gitu?" tiba-tiba Mia terbangun dari mimpi indahnya. ia tak sadar bahwa tadi itu hanyalah angannya sendiri yang ia buat. seketika hatinya menjadi hampa, karena ketidak beraniannya akan menaiki balon udaranya itu. Dani sampai saat ini, hanya akan menjadi sosok yang mia kagumi, tanpa ia ketahui. Mia tak tahu harus berkata apa dan berbuat apa. baginya dekat dengannya itu sudah jauh lebih cukup. tapi didalam hati yang terdalam Mia tidak menginginkan hal seperti itu. Ia ingin menaiki balon udara yang sudah susah payah ia buat sendiri, bersama dani. tapi Mia takut, takut ketika balon udara tersebut tiba-tiba rusak di tengah  langit. takut ketika pohon sudah tidak lagi berwarna hijau, takut ketika air sungai juga tak sejernih apa yang ia pikirkan. lebih takutnya, ketika dani tak mau ikut terbang menaiki balon udara bersama mia. mia takut. "Eh, iya dan. aku mau pesen mie goreng ajah" dani melihat wajah mia penuh keheranan. tapi dani tidak terlalu memperdulikannya, ia malah kembali melihat menu makanan "mia lihat, di menunya ada gambar balon udara, lucu banget. di bandung bisa naik balon udara gak ya?" dan suasana kembali hening, dengan mia yang sudah terbang dengan balon udaranya sedari tadi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumpa pembuat 6 stiker #kindcomments di Instagram

Apa aku pandai bersandiwara di dunia ini?

Pemalas