Apa aku pandai bersandiwara di dunia ini?

Apa aku pandai bersandiwara di dunia ini? Aku selalu berfikir bahwa ketika Aku menjalani hidup di dunia ini, hanyalah sebatas sandiwara saja. Sandiwara disaat aku tertawa ketika hal lucu terjadi, menangis ketika sedih, Bingung ketika mendapat pilihan, marah ketika diganggu dan berbagai perasaan emosi lainnya, yang selalu saja ku ekspresikan lewat mimik tubuh ini. Tapi kamu tak pernah menanyakan bagaimana yang ada didalamnya kan? Ya sama sekali tak pernah. Aku pernah bertanya kepada temanku, rasanya aku sudah nyaris tepat ditebak olehnya karena aku lagi mendapat suatu masalah. “Kamu ada masalah?” Ya, setiap orang memang punya masalah bukan? Lantas mengapa kau langsung menanyakan itu kepadaku? “wajahmu itu lho, kelihatan sekali.” Sial berarti hari ini sandiwaraku tidak sebagus yang kemarin-kemarin. “Sudah cerita saja padaku, dari tadi kau hanya menatap diam seperti itu.” Tawaran yang diberikannya membuat ku berpikir matang-matang, apa aku harus bercerita ? Bagaimana kalau ia membeberkan cerita ku ke semua orang? Bagaimana kalau ia tahu kelemahan ku? Tapi kalau Aku tak cerita, aku hanya bisa menumpuk permasalahan didalam diri ku saja. Lagipula rasanya Aku tak pernah punya tempat untuk bercerita, Tapi rasanya buat apa pula aku bercerita kepada orang ini? Lagipula dia belum tentu bisa membuat hidupku berubah. Bukan belum tentu tepatnya tapi tidak akan. Tapi sungguh, rasanya aku ingin bercerita, sudahlah tinggal bilang saja apa susahnya, lalu kau pergi. Tapi buat apa sih kamu bercerita ? dirimu kan sudah tahu itu semua, buat apa pula kamu menceritakannya ke dia? Dia kan sudah tahu dengan pasti. “Tapi kalau kamu lagi tidak ingin bercerita. It’s okay. Udah yah, aku lapar”, Hhh, apa si yang mau kamu inginkan? Begini saja kalian ributnya minta ampun, sungguh aku lelah. 
Daritadi Aku diam terus didepan kaca ini kan? ”Hayu lah makan” Ucapku. Selama perjalanan menuju kantin, Aku selalu berbisik kepada diriku, semoga permasalahan ini selesai yah kawan. “Kamu kenapa? Kok mulutnya komat kamit gitu?” Dasar, aku lupa bahwa daritadi aku tak sendiri, “Oh, Engga cuman berandai … “ Lalu tibalah di kantin, tampak lumayan ramai siang ini, mungkin mereka yang ada dikantin ini juga sama penatnya dengan diriku, berjumpa dengan teman karibnya, bersenda gurau, bercerita satu sama lain. Jika memang benar adanya mereka semua seperti itu, lantas mengapa mereka terlihat baik-baik saja dengan sandiwaranya itu? “itu, duduk disitu yuk, “ dengan tiba-tiba, ia membuyarkan lamunanku, dan langsung mengarah ke arah tempat duduk yang kosong. Kami pun pergi menuju tempat kosong tersebut, lantas memesan beberapa makanan ringan agar terlihat obrolan yang santai nan bahagia. Padahal, sumpah Aku tidak siap mengeluarkan hal ini semua kepadanya.

Perbincangan ini dibuka dengan obrolan-obrolan yang ringan, jujur dari awal saja aku tak terlalu suka dengan caranya bercerita seperti “kamu tahu gak dia itu orangnya begini begitu” dan berbagai cerita tolol lainnya yang sangat mengusikku, rasanya aku ingin berkata seperti ini “Maaf, Aku tidak terlalu peduli dengan dia itu siapa dan mau mu apa terhadapnya, jadi bisa diam saja tidak? Dengarkan aku saja yang sedang berusaha memberanikan diri untuk berbicara langsung ke pembahasan inti”  Tapi itu tidak kulakukan, karena aku tidak punya cukup keberanian akan hal itu. Lagipula kalau aku pikir-pikir  lagi itu adalah sebuah pemikiran yang bodoh. Bagaimana mungkin, aku ingin bercerita dengan topik yang dalam tapi aku tidak suka bercerita dengan topik  yang yang ringan, bukankah ketika ingin berbicara kepada topik  yang dalam, harus bercerita diawali dengan topik  yang ringan? Sangat bodoh ga sih. Dan lebih bodohnya, Ia tahu Aku , dan begitupun dengan aku terhadapnya. Kita sekelas, namun kita tidak saling sadar akan satu sama lain. Kita itu sama seperti bertanya, tertawa, izin keluar kelas, bingung, penat, panas. Semua itu kita lakukan dikelas bukan? Semua orang dikelas seperti itu termasuk Aku. Tapi bagiku itu tetap saja menjadi sandiwara yang nyata. “Lalu, kamu kenapa?” Tanyanya yang mungkin sudah bosan dengan pertanyaan jenuhnya. “Aku?” Entah mengapa, Aku menghembuskan nafas, berharap Aku sudah siap berecerita. “Apa kamu pernah merasakan hal terburuk didunia ini?” Pertanyaanku sedikit membuatnya tercengang, kemudian ia menjawab “Terburuk? Apa yah, mungkin diputusin pacar. Sakit 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jumpa pembuat 6 stiker #kindcomments di Instagram

Pemalas